POSKOLONIALISME DAN GLOBALISASI DALAM PENDIDIKAN BAHASA

POSKOLONIALISME DAN GLOBALISASI DALAM PENDIDIKAN BAHASA

Oleh: Saddam Fathurrachman

 

A. Latar Belakang

Dewasa ini kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan komunikasi sudah sangat pesat, bahkan bisa dikatakan cenderung sudah tanpa batas. Dunia seolah sudah tak mengenal jarak, ruang, dan waktu. Hal ini membuat setiap individu dan masyarakat di seluruh dunia dapat melakukan berbagai interaksi tanpa harus mengeluarkan dana, tenaga, dan waktu secara berlebih. Perkembangan inilah yang membuat masyarakat memiliki semangat untuk melakukan berbagai kegiatan demi tujuan dan kepentingannya secara menyeluruh, luas, dan cepat, atau dapat dikatakan sebagai ‘semangat global’.

Semangat global yang dimiliki masyarakat kemudian menjadi sebuah cara untuk mewujudkan dan menyebarkan cita-cita dan keinginnya ke seluruh pelosok dunia. Inilah yang dimaksudkan sebagai globalisasi. Globalisasi saat ini merasuk pada setiap aspek kehidupan manusia, termasuk ekonomi, sosial, budaya, kenegaraan, keagamaan, dan bahasa. Karena globalisasi ini juga lah, seluruh dunia dapat mengetahui keadaan suatu masyarakat, bahkan masyarakat terpencil yang belum mengenal arti globalisasi.

Menurut berbagai pendapat peneliti, globalisasi muncul karena adanya praktik kolonialisasi. Kolonialisasi dapat diartikan juga sebagai sebuah bentuk penjajahan, penguasaan, atau pengambil alihan kepengurusan sebuah bangsa atau negara ke tangan pihak asing. Negara-negara kolonial masuk dan menjajah negara lain dengan tujuan untuk menguras habis segala macam sumber daya yang berada di negara jajahannya. Namun demikian, ternyata selain mengambil segala sumber daya yang ada di sebuah daerah, negara-negara yang melakukan kolonialisme ternyata juga membawa dan menyebarkan unsur-unsur baru ke daerah tersebut.

Unsur-unsur baru yang dibawa oleh negara kolonial itu dapat berupa kebudayaan, bahasa, dan berbagai macam ilmu pengetahuan. Unsur-unsur baru tersebut kemudian diadaptasi dan diserap oleh masyarakat setempat dan kemudian dipelajari kembali dan dikembangkan setelah negara atau daerah jajahan tersebut terbebas dari kolonialisme. Artinya, perkembangan berbagai macam disiplin ilmu pengetahuan di negara-negara bekas jajahan dimulai ketika era poskolonial.

Banyak yang mengatakan bahwa era poskolonialisme ini merupakan sebuah era dimana negara-negara kolonial meninggalkan negara atau daerah jajahannya karena berbagai macam sebab, diantaranya adalah perlawanan penduduk setempat, dorongan dari negara lain untuk membebaskan negara tersebut, atau sudah tidak adanya lagi sumber daya yang dapat dieksploitasi. Tetapi tidak demikian, karena pada dasarnya era poskolonialisme lahir justru saat penjajah pertama kali memasuki wilayah jajahannya. Keinginan kuat untuk tidak dijajah, merdeka, dan melakukan segala hal sesuai keinginan masyarakat setempat merupakan wujud praktik poskolonial. Namun pada dasarnya setiap negara kolonial tidak ingin melepaskan negara atau daerah jajahannya secara total. Ada beberapa aspek yang tetap dikuasai, namun dengan cara-cara yang lebih halus, untuk terus membuat negara jajahannya itu tunduk dan dapat diawasi oleh negara kolonial.

Bentuk-bentuk penjajahan atau penguasaan sebuah negara dengan cara yang baru tanpa menimbulkan konsep ‘menjajah’ pada sebuah negara inilah yang disebut sebagai neo-kolonialisme. Neo-kolonialisme biasanya bersembunyi di balik topeng ‘kebersamaan’ atau ‘persatuan dunia’. Ia kemudian dibawa oleh globalisasi dan membuat negara-negara yang pondasinya lemah tunduk secara mental, ekonomi, atau kebudayaan terhadap negara yang lebih besar atau lebih kuat. Neo-kolonialisme saat ini kemudian disembunyikan dan disebarkan melalui berbagai aspek, antara lain: ekonomi, kemiliteran, kebudayaan, pemerintahan, pendidikan, dan kebahasaan. Neo-kolonialisme sebagai bentuk lain kolonialisme dalam era poskolonialisme dan globalisasi dalam pendidikan bahasa ini lah yang akan kami bahas di dalam makalah.

 

B. Landasan Teori

Sebagai landasan untuk membahas kasus ini, dirujuk beberapa teori yang berhubungan dengan permasalahan yang sudah ditentukan. Landasan teori ini berisi tentang:

1. Pengertian Kolonialisme

Untuk mengerti konsep poskolonialisme, kita harus mengerti konsep kolonialisme terlebih dahulu. Kolonialisme adalah pengembangan kekuasaan sebuah negara atas wilayah dan manusia di luar batas negaranya, dan seringkali bertujuan untuk mencari dominasi ekonomi dari sumber daya, tenaga kerja, dan pasar wilayah tersebut. Istilah ini juga menunjuk kepada suatu himpunan keyakinan yang digunakan untuk melegitimasikan atau mempromosikan sistem ini, terutama kepercayaan bahwa moral dari pengkoloni lebih hebat ketimbang yang dikolonikan. Pendukung dari kolonialisme berpendapat bahwa hukum kolonial menguntungkan negara yang dikolonikan dengan mengembangkan infrastruktur ekonomi dan politik yang dibutuhkan untuk pemodernisasian dan demokrasi.[1]

Kolonialisme dan Imperialisme  mulai berkembang sekitar abad ke-15 yang di awali dengan adanya gejala pembaruan di Eropa di bidang ekonomi, politik, sosial, maupun budaya dalam bentuk gerakan Renaisans dan Humanisme yang berpikir maju. Pemikiran-pemikiran akan pembaruan ini kemudian masuk ke dalam berbagai aspek diantaranya:

1.1 Bidang Ilmu Pengetahuan

Kemajuan di bidang ilmu pengetahuan ditandai dengan munculnya teori Heliosentris (tata surya) oleh Nicolaus Copernicus, seorang ilmu pasti dan astronomi dari Polandia. Ajaran Copernicus yang muncul pada tahun 1543 menjelaskan bahwa matahari sebagai pusat dari seluruh benda-benda antariksa dan ia menyatakan pula bahwa bentuk bumi adalah bulat seperti bola.

1.2 Bidang Teknologi

Selain di bidang ilmu pengetahuan, Nicolaus Copernicus juga mampu mengembangkan teknologi dengan cara membuat kompas yang dapat digunakan untuk menunjukan arah dalam pelayaran. Pada tahun 1610, muncul ilmuan baru dari Italia bernama Calileo yang mendukung dan memperjelas pokok-pokok ajaran Heliosentris dari Copernicus.

1.3 Bidang sosial ekonomi

Pada tahun 1453, bangsa Turki Usmani berhasil merebut wilayah Konstatinopel (terutama Bandar Bizantium) yang biasa digunakan sebagai bandar penghubung perdagangan anatara Asia dangan Eropa. Peristiwa itu mengakibatkan terputusnya jalur perdagangan anatara Asia dan Eropa. Kondisi sosial ekonomi para pedagang Eropa yang menurun akibat krisis lalu lintas perdagangan ini, memaksa mereka untuk mencari jalan lain dalam menemukan daerah penghasil rempah-rempah dan membelinya secara langsung dengan cara berlayar menjelajahi samudra.

2. Kolonialisme         

Kolonialisme merupakan suatu sistem yang dilakukan oleh suatu negara dalam angka menjalankan politik pendudukan atau jajahan terhadap negara lain dengan tujuan menguras sebanyak-banyaknya sumber daya yang berada pada daerah koloni (jajahan) demi kepentingan industri di negaranya. Kolonialisme dibagi dalam berbagai bentuk yakni:

2.1 Koloni kelebihan penduduk

Tujuan diadakan koloni bentuk ini adalah untuk mengatasi kepadatan penduduk di negaranya, dengan menemukan daerah koloni maka kepadatan penduduk akan bisa diatasi. Contoh negara yang pernah kepadatan penduduk adalah Italia dan Jepang pada abad ke 20.

2.2 Koloni ekploitasi

Daerah koloni (jajahan)yang  sumber dayanya dikuras habis-habisan, contohnya Indonesia pada masa kolonialisme.

2.3 Koloni penduduk

Terjadi asimilasi antara penduduk pendatang dengan penduduk asli, namun berbagai kepentingan negara seperti mengatur pemerintahan justru diambil oleh penduduk pendatang sehingga penduduk asli tidak memiliki wewenang apapun.

2.4 Koloni deportasi

Daerah koloni hanya digunakan untuk membuang orang-orang jahat (narapidana).

2.5 Koloni sekunder

Koloni bentuk ini tidak menguntungkan negara asalnya namun hanya diperintahkan untuk kepentingan strategis.

2.6 Tiang koloni penunjang

Biasanya hanya mencakup wilayah kota-kota, pelabuhan, atau pulau-pulau kecil.

Namun demikian era kolonialisme ini kemudian runtuh karena praktik kolonialisasi itu sendiri kemudian mendapat kritik yang keras, yang justru sebagian besar dilakukan oleh para terpelajar dari berbagai negara penjajah itu sendiri, sebut saja Franz Fanon. Frantz Fanon (1925-1961) lahir di koloni Perancis dari Martinique. Dia menawarkan diri untuk tentara Perancis selama Perang Dunia II, dan kemudian, setelah dibebaskan dari dinas militer, ia pergi ke Perancis, di mana ia belajar ilmu kedokteran dan psikiatri selama 1945-1950. Frantz Fanon dikenal sebagai salah satu dari para ahli teori politik Aljazair, terkenal dengan perkembangan teori tentang sifat rasisme dan kolonialisme di tuangkan dalam wujud perjuangan anti kekerasan penjajah. Ia banyak melakukan kritik terhadap praktik kolonialisme karena dianggap tidak mencerminkan kemanusiaan yang agung dan luhur.

Kritik-kritik yang muncul terhadap praktik kolonialisme ini kemudian disambut oleh pelajar-pelajar di seluruh dunia dan kemudian menyebarkan semangat anti-kolonialisasi. Pengkritik kolonialisme berpendapat bahwa kolonialisme merusak politik, psikologi, dan moral negara terkolonisasi. Atas dasar kesadaran bahasa kolonialisme itulah, kemudian beberapa negara terjajah berusaha melepaskan diri dari negara kolonialnya untuk dapat hidup dan membangun daerahnya secara mandiri. Dari sini lah bibt-bibit poskolonialisme mulai tumbuh. Namun yang harus digarisbawahi ialah bahwa gerakan poskolonialisme bukan tibul saat negara terbebas, tetapi justru ada ketika negara kolonial pertama kali memasuki daerah jajahannya.

3. Pengertian Poskolonialisme

Poskolonial berasal dari kata “post”+kolonial+“isme” yang secara harfiah berarti paham yang mengenai teori yang lahir sesudah zaman kolonial, atau jika diartikan dalam bahasa Indonesia lebih mengarah pada pengertian pascakolonialisme yang berarti setelah masa berakhirnya masa kolonial. Tetapi yang dimaksud disini “post” berati “melampaui” kolonialisme dengan maksud keadaan yang ditimbulkan karena masa kolonial dari berimbas setelah masa kolonial itu. Menurut Stephen Slemon (2001: 90), teori postkolonialisme tidak merujuk pada suatu negara, melainkan kondisi-kondisi yang ditinggalkannya. Poskolonialisme merupakan bentuk penyadaran dan kritik atas kolonialisme. Poskolonialisme menggabungkan berbagai disiplin keilmuan mulai dari filsafat, cultural studies, politik, bahasa sastra, ilmu sosial, sosiologi, dan feminisme. Poskolonial bukan berarti setelah kemerdekaan, tetapi poskolonial dimulai ketika kontak pertama kali penjajah dengan masyarakat pribumi.

Secara umum teori postkolonialisme sangat relevan dalam kaitannya dengan kritik lintas budaya sekaligus wacana yang ditimbulkannya. Tema-tema yang dikaji sangat luas dan beragam, meliputi hampir seluruh aspek kebudayaan, diantaranya politik, ideologi, agama, pendidikan, sejarah, antropologi, kesenian etnisitas, bahasa dan sastra, sekaligus dengan bentuk praktik di lapangan, seperti perbudakan, pendudukan, pemindahan penduduk, pemaksaan bahasa, dan berbagai bentuk invasi kultural yang lain. Oleh karena itu, teori postkolonialisme, khususnya postkolonialisme Indonesia melibatkan tiga pengertian. Pertama, abad berakhirnya imperium kolonial di seluruh dunia. Kedua, segala tulisan yang berkaitan dengan pengalaman-pengalaman kolonial sejak abad ke-17 hingga sekarang. Ketiga, segala tulisan yang ada kaitannya dengan paradigma superioritas Barat terhadap inferioritas Timur, baik sebagai orientalisme maupun imperialisme dan kolonialisme.

Teori poskolonialisme memiliki arti sangat penting, dimana teori ini mampu mengungkap masalah-masalah tersembunyi yang terkandung di balik kenyataan yang pernah terjadi, dengan beberapa pertimbangan. Pertama, secara definitif, postkolonialisme menaruh perhatian untuk menganalisis era kolonial. Postkolonialisme sangat sesuai dengan permasalahan yang sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia yang merdeka baru setengah abad. Jadi, masih sangat banyak masalah yang harus dipecahkan, bahkan masih sangat segar dalam ingatan bangsa Indonesia. Kedua, postkolonialisme memiliki kaitan erat dengan nasionalisme, sedangkan kita sendiri juga sedang diperhadapkan dengan berbagai masalah yang berkaitan dengan kehidupan berbangsa dan bertanah air.  Teori postkolonialisme dianggap dapat memberikan pemahaman terhadap masing-masing pribadi agar selalu mengutamakan kepentingan bangsa di atas golongan, kepentingan golongan di atas kepentingan pribadi.  Ketiga, teori poskolonialisme memperjuangkan narasi kecil, menggalang kekuatan dari bawah sekaligus belajar dari masa lampau untuk menuju masa depan. Keempat, membangkitkan kesadaran bahwa penjajahan bukan semata-mata dalam bentuk fisik, melainkan juga psikis.

Salah  satu tokoh yang membangun teori poskolonal ini adalah Edward Said, seorang filsuf kelahiran Palestina pada tahun 1935. Kajian postkolonialisme pertama kali ditemukan dalam buku Orientalism pada 1978. Tesis utamanya adalah hubungan antara pengetahuan dengan kekuasaan. Pengetahuan bukan semata-mata ilmu melainkan juga kolonialisme itu sendiri. Pengetahuan untuk mempertahankan kekuasaan, pengetahuan dipenuhi dengan visi misi politis.  Said mulai menulis tentang hak-hak rakyat Palestina dalam menentukan nasib sendiri (self-determination).

Di Indonesia sendiri teori postkolonialisme memiliki arti penting untuk mengungkap berbagai masalah, agar sesuai dengan realita yang terjadi dengan pertimbangan sebagai berikut:

  1. Postkolonialisme sangat sesuai dengan permasalahan yang sedang dihadapi bangsa  Indonesia yang merdeka baru setengah abad.
  2. Teori postkolonialisme hadir untuk memberikan pemahaman agar masyarakat dapat mengutamakan kepentingan bangsa diatas kepentingan individu.
  3.  Tempat perjuangan masyarakat kecil dengan kekuatan untuk melihat masa depan dengan melihat masa lalu.
  4. Sebagai kesadaran penjajahan dapat berupa psike dan bentuk fisik.
  5. Bentuk kesadaran diri bahwa masih banyak hal yang harus dilakukan.

4. Pengertian Globalisasi

Menurut asal katanya, kata “globalisasi” diambil dari kata global, yang maknanya ialah universal. Achmad Suparman menyatakan globalisasi adalah suatu proses menjadikan sesuatu (benda atau perilaku) sebagai ciri dari setiap individu di dunia ini tanpa dibatasi oleh wilayah. Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan, kecuali sekedar definisi kerja (working definition), sehingga bergantung dari sisi mana orang melihatnya. Ada yang memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat.

Globalisasi merupakan wujud keterkaitan dan ketergantungan antar bangsa dan antar manusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi semakin sempit. Globalisasi adalah suatu proses di mana antar individu, antar kelompok, dan antar negara saling berinteraksi, bergantung, terkait, dan memengaruhi satu sama lain yang melintasi batas negara Dalam banyak hal, globalisasi mempunyai banyak karakteristik yang sama dengan internasionalisasi sehingga kedua istilah ini sering dipertukarkan. Sebagian pihak sering menggunakan istilah globalisasi yang dikaitkan dengan berkurangnya peran negara atau batas-batas negara.

Banyak sejarawan yang menyebut globalisasi sebagai fenomena di abad ke-20 ini yang dihubungkan dengan bangkitnya ekonomi internasional. Padahal interaksi dan globalisasi dalam hubungan antar bangsa di dunia telah ada sejak berabad-abad yang lalu. Bila ditelusuri, benih-benih globalisasi telah tumbuh ketika manusia mulai mengenal perdagangan antar negeri sekitar tahun 1000 dan 1500 M. Saat itu, para pedagang dari Tiongkok dan India mulai menelusuri negeri lain baik melalui jalan darat (seperti misalnya jalur sutera) maupun jalan laut untuk berdagang. Fenomena berkembangnya perusahaan McDonald di seluroh pelosok dunia menunjukkan telah terjadinya globalisasi. Fase kedua ditandai dengan dominasi perdagangan kaum muslim di Asia dan Afrika. Kaum muslim membentuk jaringan perdagangan yang antara lain meliputi Jepang, Tiongkok, Vietnam, Indonesia, Malaka, India, Persia, pantai Afrika Timur, Laut Tengah, Venesia, dan Genoa.

Di samping membentuk jaringan dagang, kaum pedagang muslim juga menyebarkan nilai-nilai agamanya, nama-nama, abjad, arsitek, nilai sosial dan budaya Arab ke warga dunia. Fase ketiga ditandai dengan eksplorasi dunia secara besar-besaran oleh bangsa Eropa. Spanyol, Portugis, Inggris, dan Belanda adalah pelopor-pelopor eksplorasi ini. Hal ini didukung pula dengan terjadinya revolusi industri yang meningkatkan keterkaitan antar bangsa dunia. berbagai teknologi mulai ditemukan dan menjadi dasar perkembangan teknologi saat ini, seperti komputer dan internet. Pada saat itu, berkembang pula kolonialisasi di dunia yang membawa pengaruh besar terhadap difusi kebudayaan di dunia. Fase ketiga yang terus berjalan saat ini mendapat momentumnya ketika perang dingin berakhir dan komunisme di dunia runtuh.

Runtuhnya komunisme seakan memberi pembenaran bahwa kapitalisme adalah jalan terbaik dalam mewujudkan kesejahteraan dunia. Implikasinya, negara negara di dunia mulai menyediakan diri sebagai pasar yang bebas. Hal ini didukung pula dengan perkembangan teknologi komunikasi dan transportasi. Pada akhirnya, sekat-sekat antarnegara pun mulai kabur. Sekat-sekat antarnegara yang perlahan mulai memudar dan semakin menghilang, kemudian dijadikan peluang untuk saling menguasai dan memengaruhi kedudukan suatu negara. Hal ini selain terjadi dalam bidang ekonomi, juga terjadi dalam bidang pendidikan bahasa.

 

C. Poskolonialisme dan Globalisasi dalam Pendidikan Bahasa

1. Globalisasi sebagai Manifestasi Gerakan Neo-Kolonialisme

            Globalisasi menyebarkan sebuah wacana dimana opini publik dibentuk untuk berpikir bahwa  mereka telah masuk pada era di mana setiap negara sudah tidak lagi memiliki batas dengan semakin majunya industrialisasi serta teknologi informasi dan komunikasi, yang kemudian memberikan dampak terhadap budaya-budaya di dunia. Globalisasi menyebabkan homogenitas budaya, bahwa budaya yang baik adalah yang berasal dari Barat. Munculnya globalisasi juga melalui sejarah yang panjang, yang mana hal itu tidak lepas dari adanya kolonialisasi oleh Bangsa Barat terhadap bangsa Timur. Perspektif poskolonialisme yang diwakili oleh tokoh poskolonialisme yaitu Homi Bhabha, yang mana membahas tentang budaya, khususnya hibriditas budaya, memberikan sebuah wacana bahwasanya terdapat suatu hubungan antara fenomena globalisasi seperti yang dewasa ini gencar diperbincangkan dengan perspektif poskolonialisme. Di samping itu ada Franz Fanon  yang terkenal dengan ”Black Skin White Masks” dan Edward Said yang terkenal dengan wacana ”Orientalism”. Jadi, munculnya isu tentang globalisasi juga tidak lepas karena adanya sejarah panjang kolonialisme yang kemudian menimbulkan pespektif poskolonialisme.

Globalisasi mempengaruhi hampir semua aspek yang ada di masyarakat, termasuk diantaranya aspek budaya. Terjadinya perubahan nilai-nilai sosial pada masyarakat, sehingga memunculkan kelompok semacam kelompok dari luar negeri (Barat) dalam negaranya sendiri, seperti meniru gaya punk, musik pop maupun jazz, dan juga berbagai macam westernisasi dan amerikanisasi lainnya. Globalisasi merupakan bentuk imperialisme budaya Amerika juga imperialisme budaya Eropa ke negara-negara bekas jajahannya.

Globalisasi sebagai sebuah gejala tersebarnya nilai-nilai dan budaya tertentu keseluruh dunia (sehingga menjadi budaya dunia atau world culture) telah terlihat sejak lama. Cikal bakal dari penyebaran budaya dunia ini dapat ditelusuri dari perjalanan para penjelajah Eropa Barat ke berbagai tempat di dunia ini. Perkembangan globalisasi kebudayaan secara intensif terjadi pada awal ke-20 dengan berkembangnya teknologi komunikasi. Kontak melalui media, seperti internet, televisi, menggantikan kontak fisik sebagai sarana utama komunikasi antarbangsa. Perubahan tersebut menjadikan komunikasi antarbangsa lebih mudah dilakukan yang menyebabkan semakin cepatnya perkembangan globalisasi kebudayaan.

Menurut perspektif poskolonialisme, globalisasi tidak sekedar isu, tapi fenomenanya merupakan fenomena riil, yaitu berupa hibriditas budaya yang menyebabkan homogenitas budaya yang terdapat di era globalisasi akibat adanya kolonialisasi dan dampak kolonialisasi yang dibahas melalui teori poskolonialisme. Poskolonialisme dalam memandang globalisasi adalah globalisasi merupakan jalan untuk negara-negara maju tetap melanggengakan kolonisasinya. Di bawah dunia baru yang terdiri atas masyarakat kontemporer, manifestasi kolonialisme
sering menyamar  atas nama globalisasi (Smith, 1999). Pengaruh-pengaruh negara maju masih terus berlangsung terhadap negara-negara berkembang yang dulunya adlaah negara jajahannya. Sehingga rasa superioritas dan inferioritas yang merupakan dampak psikologis karena kolonialisasi akan tetap ada.

2. Globalisasi, (Neo) Kolonialisme, dan Pendidikan Bahasa

Dalam pendidikan bahasa, globalisasi telah mendorong penyelidikan ilmiah mengenai hubungan antara bahasa dengan negara, media, identitas bangsa, genre, gaya komunikasi, dan kebijakan bahasa kedua. Isu mengenai globalisasi dan kondisi pendidikan bahasa poskolonial berhubungan erat dengan hegemoni global. Salah satu akibat adanya globalisasi yang juga berkaitan dengan poskolonialisme adalah dengan digunakannya bahasa Inggris sebagai bahasa internasional. Mengingat pada jaman dulu Inggris adalah negara koloni yang sangat kuat, negara jajahannya ada di mana-mana, sehingga tak dapat disangkal bahwa budaya dan bahasanya akan ada di setiap negara yang pernah dijajah oleh Inggris.

Banyak pendapat yang berbeda mengenai keberadaan bahasa Inggris di dunia pada era globalisasi saat ini.  Crystal (2003) berargumen bahwa meskipun Inggris adalah bahasa kolonial di masa lalu, namun sekarang ia adalah alat yang netral dan berguna bagi siapa saja yang ingin menggunakannya untuk berkomunikasi dan berinteraksi dalam berbagai bidang.  Sebaliknya, Phillipsons (1992) yang memiliki pemikiran imperialisme linguistik menghubungkan dominasi global bahasa Inggris dengan ketidaksetaraan struktur  antara negara-negara hegemonik Barat dan negara-negara berkembang, serta menyoroti gerakan neokolonial dan eksploitasi ekonominya di dunia. Satu hal yang penting akibat dari wacana  globalisasi dalam pendidikan bahasa adalah intervensi konstruksi dari berbagai standar (misalnya, British Varietas pada bahasa Inggris).

Intervensi-intervensi tersebut kemudian akan memunculkan sebuah wacana dimana adanya bahasa “kelas atas” dan bahasa “kelas bawah”. Bahasa kelas atas biasanya memiliki ciri khas tersendiri: kebakuannya telah ditetapkan oleh pemerintah, penggunaannya disesuaikan dengan situasi bicara, serta struktur bahasa yang dibuat sesuai standar. Sedangkan, bahasa kelas bawah biasanya tidak diakui oleh pemerintah, penggunaannya bebas dan diatur sesuai kebudayaan setempat, dan kesesuaiam struktur bahasa tidak terlalu menjadi persoalan ketika digunakan dalam berkomunikasi.

Kemunculan hierarki pada bahasa akan memunculkan sebuah bentuk komoditi kolonialisme yang baru. Mereka yang memilki kemampuan bahasa yang standar akan dilihat sebagai seorang yang terpelajar, orang yang berkedudukan tinggi, serta orang yang memilki etika dan moral yang luhur. Sedangkan mereka yang tidak menguasai bahasa secara baku akan dicap sebagai orang “udik”, tidak memiliki etika, dan pada akhirnya kurang diakui keberadaannya oleh negara sehingga kelak ia akan menemui kesulitan ketika berhubungan dengan persoalan birokrasi (mencari pekerjaan, perlindungan hukum, dan lain-lain). Akibatnya ketika berada di sebuah lingkungan dimana terdapat penutur bahasa “kelas atas” dan penutur bahasa “kelas bawah”, maka penutur “kelas bawah” iniakan pendapatkan tekanan atau penjajahan mental dari para penutur “kelas atas”.

Hierarki bahasa ini di dalam bahas Inggris juga ditemukan dalam bentuk NSs (native speakers) dan NNSs (non-native speakers). Mereka yang akan belajar bahasa Inggris lebih memilih belajar melalui guru NSs daripada guru NNSs karena dianggap lebih mampu dan kompeten untuk mengajarkan bahasa Inggris. Padahal dalam praktiknya, guru NNSs tidak kalah ilmu pengetahuannya mengenai bahasa Inggris dibandingkan dengan guru NSs. Lebih daripada itu, guru NNSs akan lebih mudah mengajarkan bahasa Inggris ketimbang guru NSs, sebab guru NNSs yang berasal dari negara di luar negara yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa aslinya akan memiliki metode yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan peserta didiknya. Contohnya guru bahasa Inggris yang berasal dari Indonesia akan lebih mudah mengajarkan anak-anak Indonesia untuk belajar bahasa Inggris, karena ia mengetahui mentalitas serta pumpunan apa yang paling tepat digunakan untuk proses pembelajaran agar peserta didiknya itu dapat menguasai bahasa Inggris secara baik dan benar.

3. Meredam Neo-Kolonialisme dalam Pendidikan Bahasa pada Era Globalisasi

Masyarakat dunia yang mengetahui dan sadar akan keberadaan bahasa Inggris yang telah menjadi bahasa resmi, kemudian memberikan sebuah istilah untuk menyebut para penutur bahasa Inggris di seluruh dunia dengan istilah WEs (World Englishes). Penelitian tentang WEs telah muncul dari pengakuan keanekaragaman linguistik poskolonial. WEs menyorot keragaman linguistik, hibriditas, dan diaspora sebagai akibat dari penyebaran bahasa Inggris yang global, dan berusaha untuk merebut kembali kepemilikan bahasa Inggris. Dalam Wes, diakui berbagai macam bentuk dialektika dan ciri khas cara pengucapan bahasa Inggris pada berbagai daerah di seluruh dunia. Studi pada WEs cenderung mengabaikan hubungan kekuasaan sosial yang merata, artinya hibriditas sangat dihormati ketika orang-orang di dunia berkomunikasi melalui bahasa Inggris.

Namun demikian, muncul pro dan kontra mengenai hibriditas ini. Melalui munculnya perayaan hibridisasi bahasa dengan identitas lokal yang diusung oleh para penggerak poskolonial, penggunaan berbagai identitas dan variasi yang berbeda dari bahasa Inggris yang dimiliki guru dan siswa sudah mulai diakui dalam pendidikan bahasa. Namun menurut pandangan para imperialis, hal ini akan menimbulkan ketiadadaan bentuk bahasa Inggris yang benar-benar baku.

Masyarakat poskolonial yang negara-negaranya tercatat telah mengalami masa penajajahan, telah mengambil jalan yang berbeda-beda dalam menentukan media instruksi di lembaga pendidikan masing-masing. Ada beberapa yang terus menggunakan bahasa kolonial sebagai media utama dengan beberapa instruksi bilingual (misalnya, Singapura, Filipina, banyak negara Afrika), ada yang memilih untuk mengadopsi bahasa lokal setidaknya untuk pendidikan dasar, dan ada juga yang memosisikan bahasa penjajahnya hanya sebatas pelajaran tambahan atau tidak menggunakannya dalam berkomunikasi sehari-hari, seperti di Indonesia.

Perbedaan juga terlihat ketika kolonialisasi dalam bidang pendidikan bahasa masih kental dan digunakan di berbagai negara. Ketika itu pendidikan bahasa dipelajari dan diberikan pada peserta didik melalui perspektif Dunia Barat. Artinya ketika belajar bahasa Inggris, siswa dituntut untuk benar-benar berbicara, mengeja,  meniru mimik, dan gaya tubuh sesuai dengan apa yang dilakukan orang Inggris. Namun berkat para pemikir poskolonial, dewasa ini pendidikan bahasa mulai dipelajari, diberikan, serta dikembangkan seusai dengan perspektif lokal dimana masyarakat penutur berada. Bahasa Inggris mulai dipelajari dengan menyesuaikan budaya serta kemampuan fonotaktis yang dipelajari oleh masyarakat tersebut.

 

D. Kesimpulan

Postkolonialisme dan globalisasi menawarkan dua pendekatan yang berbeda namun saling berhubungan dalam hal transnasional budaya. Poskolonialisme memandang transanasional budaya dari tingkat lokal ke tingkat yang signifikan berakar dalam karya intelektual postkolonial dan didasarkan pada dekolonisasi dan pembangunan bangsa, dan memnganggap budaya yang tersebar adalah produk Barat. Namun, dalam pandangan globalisasi, transnasional budaya berasal dari transnasional studi yang didasarkan pada kompleks teori disiplin berfokus pada struktur postnational dan budaya yang kemudian disebarluaskan melalui kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.

Globalisasi mempengaruhi hampir semua aspek yang ada di masyarakat, termasuk diantaranya aspek budaya. Terjadinya perubahan nilai-nilai sosial pada masyarakat, sehingga memunculkan kelompok semacam kelompok dari luar negeri (Barat) dalam negaranya sendiri, termasuk dalam berbahasa.

Dalam pandangan poskolonialisme, negara-negara berkembang yang telah melalui proses kolonisasi, dekolonisasi, dan postkolonialisme adalah bagian dari sejarah panjang globalisasi. Tahap pertama, pada masa penjajahan yaitu dimana negara koloni memanfaatkan kolonisasi dengan pembangunan modal kepentingan ekspansi sendiri. Dan yang kedua, di era global dan pasar bebas ini, di mana perusahaan multi-nasional di usia-media massa mulai menjamur dan melakukan ekspansi pasar ke negara-negara berkembang, sekaligus menyebarkan budayanya melalui pasar tersebut.

Globalisasi tak selalu berdapak positif. Banyak dampak negatif yang timbul sejak adanya globalisasi, termasuk dalam bidang sosial dan budaya. Banyaknya nilai dan budaya masyarakat yang mengalami perubahan dengan cara meniru atau menerapkannya secara selektif merupakan salah satunya. Contohnya adalah ketika modernisasi hadir disegala bidang kehidupan, terjadi perubahan ciri kehidupan masyarakat desa di Indonesia. Masyarakat yang pada awalnya sangat bangga menggunakan bahasa Indonesia dan sangat menghormati keragaman bahasa daerah yang kemudian dikukuhkan melalui sumpah pemuda, kini mulai tergerus arus globalisasi dan mulai bangga ketika mampu berkomunikasi menggunakan bahasa asing, dalam hal ini bahasa Inggris.

Hal ini yang kemudian menjadi kegundahan para aktifis poskolonial dimana kolonialisasi menjelma dalam bentuk globalisasi dan mencemari berbagai bidang termasuk bahasa. Globalisasi dianggap sebagai perwujudan neo-kolonialisme dimana bahasa Inggris perlahan-lahan mulai menggerus dan menghancurkan kebanggaan masyarakat penutur asli berbagai negara sehingga pada akhirnya masyarakat tersebut lebih bangga dan lebih senang berkomunikasi dengan bahasa Inggris darpada bahasa aslinya.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  • Ashcroft, Bill, Gareth Griffiths, dan Hellen Tiffin. Menelanjangi Kuasa Bahasa: Teori dan Praktik Sastra Poskolonial. Yogyakarta: Qalam, 2003.
  • Dahlan, Muhidin M. Postkolonial Sikap Kita terhadap Imperialisme. Yogyakarta: Jendela, 2001.
  • McLeod, John. 2000. Beginning Colonialism. Manchester University Press : Manchester and New York.
  • Micklethwait, John dan Adrian Wooldridge. 2007. Masa Depan Sempurna, Tantangan dan Janji Globalisasi (diterjemahkan oleh Samsudin Berlian). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
  • Ratna, Nyoman Kutha. Postkolonialisme Indonesia  Relevansi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008.
  • Shin, Hyung dkk. Post-colonialism and Globalization in Language Education
  • Stigliz, Joseph E. 2002. Globalization and its Discontens. New York: W.W Norton and Company, Inc.
  • http://www.scribd.com/doc/17144495/MAKALAH-GLOBALISASI (diunduh pada tanggal 30 Desember 2010)
  • http://www.sociology.emory.edu/globalization/theories03.html  (diunduh pada tanggal 30 Desember 2010)
  • Kusmarni, Yani. ”Suatu Kajian Tentang Teori Poskolonial Edward Saidhttp://www.academia.edu/1177724/TEORI_POSKOLONIAL   (diakses pada 7 Januari 2013)
  • SyahYuti.“Teori Poskolonialisme” http://kuliahsosiologi.blogspot.com (diakses pada 7 Januari 2013)
  • [1] www.wikipedia.com

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: